kesehatan

Stress Bisa Bikin Lapar? Ini Penjelasan Psikolog Tentang Stress-Eating

— Ngomonin soal stress, saya rasa semua orang pernah mengalaminya. Terlebih selama masa pandemi seperti sekarang. Kecemasan karena segalanya yang serba nggak pasti, ditambah perasaan terisolasi, wajar saja kalau membuat pikiran jadi ke mana-mana nggak terkendali.

Setiap orang punya caranya masing-masing dalam menghadapi stress. Ada yang sesimpel dengan istirahat sejenak saja sudah langsung membaik, ada yang butuh ceritanya didengar, nggak jarang juga yang melampiaskannya dengan olahraga atau mencoba meditasi. Tapi dari berbagai cara ini, ada satu hal yang dekat banget hubungannya dengan stress, apa lagi kalau bukan makanan.

Banyak yang bilang ada dua cara menghadapi stress yang berkaitan dengan makanan. Antara kita stop makan atau makan tanpa stop. Kadang saking kepikirannya sama suatu masalah, kita sampai lupa makan. Di sisi lain, ada juga yang berusaha kabur sejenak dari masalahnya dengan makan yang enak-enak untuk mendapatkan rasa ‘puas’ sementara. Ini lah yang biasa dikenal dengan emotional-eating atau stress-eating. 

Sebenarnya stress-eating ini hanya perasaan kita saja atau memang ada hubungannya dengan psikologi, ya? Berikut penjelasan dari Firman Ramdhani, M.Psi., Psikolog dan Rayhanni Rahman, S.Psi (Asisten Psikolog). Simak penjelasannya,yuk!

Sebenarnya ada hubungannya nggak sih stress dengan keinginan untuk makan? Seperti apa penjelasan stress-eating dalam psikologi?

Kalau kita coba bahas dari sisi neuropsikologi, kita perlu melihatnya dari sudut pandang chemical imbalance. Di otak terdapat banyak zat kimia, yang disebut neurotransmitter, dan yang paling terkait dengan pola makan salah satunya adalah Serotonin. Dari berbagai riset, Serotonin juga mempengaruhi banyak hal, seperti mood, perilaku agresif, arousal, dorongan dan fungsi seksual, tidur, memori dan belajar, regulasi suhu, persepsi rasa sakit, pernafasan, dan juga beberapa perilaku sosial.

Kadar serotonin yang seimbang dapat memberikan perasaan puas atau nyaman secara emosional dan perasaan kenyang setelah makan. Sebaliknya, kadar serotonin yang rendah cenderung membuat individu merasa depresi dan mengarah kepada pola makan yang berlebih, utamanya pada makanan yang rasanya manis dan bertepung. Makan menjadi jalan keluar untuk mengisi rasa tidak nyaman secara emosional yang muncul ketika kadar serotonin turun.

Apa saja yang bisa jadi trigger dari stress-eating terutama saat pandemi seperti sekarang?

Kita bisa bayangkan pada masa pandemi seperti ini, banyak dari kita mengalami stress yang kronis, mulai dari rasa khawatir akan kesehatan, kelanjutan bisnis, takut tidak bisa membiayai anak-istri kedepannya atau stress karena terlalu banyak tugas kuliah / sekolah. Belum lagi ketidak pastian pada masa ini membuat beberapa individu semakin cemas. Lebih lanjut, perubahan kegiatan rutin membuat kita perlu beradaptasi, dan banyak yang mengalami kesulitan untuk bisa beradaptasi dengan rutinitas barunya. Akhirnya banyak dari kita mulai terdorong untuk ikut membuat Dalgona coffee, atau cek orderan kita di Gojek atau Grab, lebih banyak makanan apa yang kita pesan?

Kadar serotonin yang rendah juga ditemui pada mereka yang memiliki gangguan cemas. Bahkan, bisa kita sebut kondisi stress yang sifatnya kronis juga menyebabkan menurunnya kadar serotonin di otak kita. Jadi, stress yang kita rasa setiap hari di sekolah, di kantor, di rumah, sudah cukup membuat kita jadi rajin ngemil yang nggak sehat.

fried chicken

Kenapa saat stress kita lebih cenderung ingin makan makanan yang nggak sehat?

Orang yang sedang dalam keadaan emosi negatif telah terbukti mendukung konsumsi makanan yang memiliki kandungan gula dan lemak tinggi; sedangkan asupan individu selama keadaan emosi positif (bahagia) lebih terletak pada buah-buahan kering, yang tidak terlalu banyak memberikan manfaat hedonis.”

Seberapa serius sih dampak negatif dari stress-eating ini?

  1. Kecanduan. Individu bisa terjebak pada perilaku stress-eating yang berulang apabila ia tidak mampu keluar dari siklusnya. Efek menyenangkan sesaat setelah mengkonsumsi makanan yang hyperpalatable (sangat lezat) membuat aktifnya reward pathway di otak (atau jalur kesenangan).
  2. Menimbulkan penyakit lainmisalnya saja diabetes dan obesitas.
  3. Makanan yang tidak sehat dapat berpotensi menimbulkan leaky gut (bocornya pencernaan) yang membuat molekul makanan masuk ke pembuluh darah sebelum diolah dengan baik. Sehingga dianggap ancaman oleh sistem imun kita. Lebih jauh, ada beberapa molekul dari makanan yang mirip dengan berbagai organ di dalam tubuh kita. Sistem imun kita salah mendeteksi dan akhirnya menyerang organ sendiri.
  4. Banyaknya lemak dalam tubuh akan mengaktifkan yang disebut pro-inflammatory cytokines yang mendukung adanya inflamasi atau peradangan di dalam tubuh kita. Yang ketika kadarnya tinggi di dalam pembuluh darah, ia akan masuk ke dalam otak dan mempengaruhi kadar serotonin, yang nantinya akan memepengaruhi mood kita. Dari buku The Inflammed Mind (8), disebut gangguan depresi bisa jadi muncul karena kita punya inflamasi atau peradangan di dalam tubuh kita terlebih dahulu.”
  5. Gangguan metabolisme. 
relaxed-asian-woman-headphones-listening-music-laying-down-sofa_42193-198

Lalu bagaimana mengatasinya?

Yang pertama adalah belajar bagaimana menghadapi stress, menurut teori cognitive behavior therapy, bukan situasi lah yang membuat kita marah, sedih, takut, melainkan cara kita berpikir dan memaknai situasilah yang menjadi penyebabnya. Ketika stres kita terkontrol, kemungkinan kita terjebak kepada makanan yang tidak sehat menjadi berkurang. 

Berikutnya adalah melatih gaya hidup yang sehat. Mulai dari makanan yang dipilih, tidak lagi mengandung tepung, gula, gorengan dan perbanyak makanan yang mengandung seratJaga pola tidur dan olahraga yang teratur.

Penting untuk diingat bahwa saat ini adalah situasi yang berat bagi banyak orang. The stress you’re feeling is valid and you are not aloneJika kamu berada pada siklus stress-eating yang nggak berkesudahan, jangan sungkan cari bantuan dari mental health professional terdekatmu, ya!